Difusi, Akulturasi dan Asimilasi Kebudayaan

Silahkan Bagikan Tulisan-Artikel ini :
Dalam upaya menyesuaikan diri dengan masyarakat sekitarnya, individu harus belajar menerima budaya masyarakat tersebut. Tingkat penghayatan atau internalisasi budaya itu tidak sama dalamnya, tergantung dari intensitas kontak atau interaksi antara individu tersebut dengan anggota masyarakat sekitar.
Difusi kebudayaan terjadi jika seorang individu secara selektif meminjam beberapa aspek budaya atau tradisi setempat. Biasanya seleksi dilakukan atas pertimbangan keuntungan aspek-aspek tersebut bagi individu dan menolak aspek-aspek lain yang dianggap dapat merugiakannya. 
Contohnya, orang barat yang senang mengenakan pakaian batik karena membuat penampilannya menarik namun tetap tidak mau belajar bahasa Indonesia meskipun telah bertahun-tahun menetap di Jawa. Dapat dimengerti jika penghayatan suatu aspek budaya melalui difusi ini tidaklah lama melekat dalam diri individu.
Melalui akulturasi penerimaan norma atau budaya baru berlangsung lebih intensif, yaitu melalui perubahan pada dua kebudayaan yang saling berinteraksi. dua budaya yang berbeda itu bertemu dan secara intensif diolah dalam diri individu dan di masyarakat sehingga akhirnya terjadi modifikasi dari aspek-aspek budaya aslinya yang disesuaikan dengan budaya yang baru.
Jadi prosesnya bukan sekedar meminjam tradisi dan aspek budaya lain, melainkan melibatkan suatu upaya pengorganisasian masyarakat guna memberi peluang kepada budaya lain untuk juga dapat berfungsi dalam masyarakat tersebut. 
Akulturasi ini dapat dilihat di banyak tempat di Indonesia dimana anggota suatu komunitas atau kelompok menjalankan tradisi dan menaganut norma yang berasal dari berbagai budaya. Jika perubahan suatu kebudayaan itu sedemikian besarnya sehingga ciri khasnya terlebur kedalam budaya lain, atau jika kedua budaya itu melebur membentuk suatu budaya baru, maka hal itu disebut asimilasi.
Proses asimilasi ini memakan waktu yang panjang dan hal ini lebih mudah dicapai oleh individu yang mempunyai motivasi kuat untuk berubah, daripada mengubah seluruh kelompok.
Sumber Tulisan :
Solita Sarwono, 1993, Sosiologi Kesehatan, Beberapa Konsep Beserta Aplikasinya, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.

Artikel Lainnya:

Silahkan Bagikan Tulisan-Artikel ini :