Pengendalian Infeksi dan Cara Mencegah Terjadinya Infeksi

Silahkan Bagikan Tulisan-Artikel ini :
Pengendalian Infeksi dan Cara Mencegah Terjadinya Infeksi
Pengendalian infeksi dapat melalui berbagai upaya yang dilakukan untuk mengurangi kejadian infeksi yang diakibatkan oleh mikroorganisme yang dapat menyebabkan infeksi. Upaya tersebut ditujukan bagi pasien, klien dan tenaga kesehatan, dengan kata lain upaya ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi semua dalam melaksanakan pelayanan kesehatan, tanpa memperhatikan ukuran fasilitas maupun lokasi pelayanan. 
Bila pengendalian infeksi tidak terlaksana dengan baik kemungkinan makin besar kejadian infeksi dan risiko penyebaran melalui fasilitas kesehatan juga meningkat. Maka semua alat yang terkontaminasi seperti jarum, alat suntik dan perlengkapan lain dari pasien harus senantiasa ditangani sebagai benda terinfeksi. Pengendalian infeksi dapat mengandalkan daerah barier antara penjamu dan mikroorganisme yang tujuannya memutus rantai penyebaran pada beberapa tempat, misalnya melalui proses fisik, mekanik atau kimia dalam mencegah penyebaran infeksi dari penderita satu ke penderita yang lain.
Ada beberapa usaha yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya infeksi antara lain :
a. Petugas : Bekerja hanya di waktu sehat, dilakukan pemeriksaan kesehatan secara teratur (tiap 6 bulan), tidak bekerja bila menderita penyakit infeksi/menular, bekerja sesuai prinsip aseptic dan antiseptic, bekerja sesuai prosedur yang benar, mencuci tangan dengan teknik yang benar, memperhatikan hygiene perorangan yang baik, menjaga kebersihan lingkungan, melakukan asuhan keperawatan yang benar, isolasi dalam keadaan tertentu, bekerja sesuai peraturan tata tertib yang berlaku.
b. Alat-alat : Selalu disimpan dalam keadaan kering, bersih steril dan disimpan dalam tempat khusus, tidak memakai alat yang rusak, tidak memakai alat yang diragukan sterilitasnya, linen harus bersih, kering dan licin, satu set alat untuk satu tindakan, tidak memakai alat yang kadaluwarsa, alat yang ada diruang perawatan seharusnya terbuat dari bahan yang mudah dibersihkan, tidak terkontaminasi oleh penyakit tertentu.
c. Pasien : Melakukan isolasi pada penyakit yang menderita penyakit menular, merawat personal hygiene pasien, memberikan perhatian khusus pada pasien dengan penyakit yang diyakini bisa menularkan penyakit
d. Lingkungan : Penerangan / sinar matahari harus cukup, sirkulasi udara harus cukup, menjaga kebersihan, menghindarkan serangga, mencegah air menggenang, tempat sampah selalu dalam keadaan tertutup, permukaan lantai rata dan tidak berlubang, dinding ruang perawatan licin, mudah dibersihkan dan tidak bersudut, ruangan dibersihkan secara rutin.
Upaya pengendalian infeksi bersifat multidisiplin, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam pengendalian infeksi :
a. Disipline : Perilaku petugas kesehatan harus didasari disiplin yang tinggi untuk mematuhi prosedur aseptic, teknik invansif, upaya profilaksi, dan sebagainya.
b. Defence mechanism : Melindungi pasien dengan mekanisme pertahanan diri supaya tidak terpapar oleh sumber infeksi.
c. Drug : Pemakaian obat-obatan antiseptic, antibiotic dan lain-lain yang dapat mempengaruhi kejadian infeksi.
d. Design : Rancang bangun ruang perawatan akan berpengaruh terhadap risiko penularan infeksi, khususnya melalui udara (airbone), atau kontak fisik yang dimungkinkan bila luas ruangan tidak cukup memadai.
e. Device : peralatan protektif diperlukan sebagai penghalang penularan, misalnya pakaian pelindung, masker, kaca mata pelindung, sarung tangan dan sebagainya.

Sumber Pustaka :
Wishnuwardhani DS. Pengendalian Infeksi di Fasilitas Pelayanan Kesehatan, Persatuan Pelayanan untuk Kesehatan di Indonesia
Jakarta.
Setyawati L. Penyakit Akibat Kerja, Kumpulan Bahan Kuliah Penyakit Akibat Kerja dan Kesehatan Kerja, Karyasiswa (S-2) Ilmu Kesehatan Kerja UGM, Yogyakarta; 2003.
Kusnanto H. Pengendalian Infeksi Nosokomial, MMRS PS UGM. Yogyakarta: Mitra Gama Widya; 1997.

Artikel Lainnya:

Silahkan Bagikan Tulisan-Artikel ini :